Pelantikan Tengah Malam: Antara Meritokrasi atau Manuver Kekuasaan?

 

Bima - Langkah Bupati Bima, Ady Mahyudi melantik pejabat eselon II di malam hari bukan sekadar soal teknis waktu, tetapi menyentuh aspek yang lebih substansial: transparansi, etika birokrasi, dan kepercayaan publik. Di tengah tuntutan reformasi birokrasi yang semakin ketat, keputusan semacam ini justru memantik tanda tanya mengapa pelantikan strategis dilakukan di luar jam kerja normal?

Secara normatif, pemerintah kerap berlindung pada dalih efisiensi dan fleksibilitas waktu. Namun dalam praktiknya, publik berhak curiga bahwa pelantikan malam hari berpotensi meminimalisir sorotan, mempersempit ruang kontrol sosial, dan menghindari resistensi internal birokrasi. Ini bukan sekadar spekulasi, melainkan pola yang kerap berulang dalam dinamika politik lokal di berbagai daerah.

Dalih meritokrasi yang disampaikan pemerintah daerah juga perlu diuji secara kritis. Meritokrasi bukan hanya soal hasil seleksi, tetapi juga menyangkut proses yang transparan, akuntabel, dan terbuka terhadap pengawasan publik. Ketika pelantikan dilakukan dalam situasi yang cenderung tertutup, maka narasi meritokrasi berisiko tereduksi menjadi sekadar legitimasi formal atas keputusan politik.

Lebih jauh, momentum pelantikan pejabat tinggi pratama adalah titik krusial dalam menentukan arah kebijakan daerah. Pejabat eselon II bukan sekadar administrator, tetapi aktor strategis dalam distribusi sumber daya, implementasi program, hingga pembentukan jaringan kekuasaan birokrasi. Dalam konteks ini, setiap keputusan penempatan jabatan selalu memiliki dimensi politik, terlepas dari seberapa kuat narasi profesionalisme yang dibangun.

Publik tentu tidak mempermasalahkan kapan pelantikan dilakukan, selama prosesnya benar-benar bersih dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun problemnya, kepercayaan publik tidak dibangun dari klaim sepihak, melainkan dari praktik yang konsisten menunjukkan keterbukaan. Tanpa itu, setiap langkah yang tidak lazim termasuk pelantikan di malam hari akan terus dibaca sebagai sinyal adanya manuver di balik layar.

Jika pemerintah daerah serius ingin memperkuat birokrasi yang profesional, maka yang dibutuhkan bukan sekadar retorika “the right man in the right place”, tetapi juga keberanian membuka proses kepada publik. Sebab dalam tata kelola pemerintahan modern, legitimasi tidak hanya lahir dari kewenangan, tetapi dari transparansi yang mampu menjawab keraguan masyarakat.

Pada akhirnya, pelantikan malam hari ini menjadi ujian sederhana namun penting: apakah ini benar-benar praktik administratif biasa, atau justru cerminan dari pola lama politik kekuasaan yang belum sepenuhnya ditinggalkan?

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama